Senin, 07 Maret 2016

Zakat Emas dan Perak

0


Zakat Nuqud (Logam Mulia)
Para fuqaha’ sepakat mengenai kewajiban zakat logam (emas dan perak), baik berbentuk lempengan, tercetak, atau berupa wadah. Bahkan menurut Hanafiyah perhiasan yang dipakai juga wajib dizakati.
Nishab dan kadar zakat

Emas
 
 



Nishab 20 mitsqal
1 mitsqal = 4,25 gram
Maka 20 mitsqal = 85 gram
 

Perak
 

Nishab 200 dirham
1 dirham = 2,975 gram
Maka 200 dirham = 595 gram
 
 





Menurut Jumhur, salah satu dari emas dan perak dapat digabungkan dengan yang lain untuk menyempurnakan nishab, emas digabungkan dengan perak atau sebaliknya. Seperti seseorang mempunyai 100 dirham dan 5 mitsqal seharga 100 dirham. Maka ia wajib zakat, sebab tujuannya dan zakatnya sama, keduanya adalah satu jenis. Namun menurut Syafi’iyah tidak bisa digabungkan, sebagaimana unta dan sapi yang tidak bisa digabungkan.
Kadar zakatnya adalah 2,5 %
Dalilnya sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh sahabat Ali Radhiallahu ‘Anhu,
“Jika kamu mempunyai 200 dirham dan telah genap satu tahun, maka di dalamnya ada zakat 5 dirham. Dan kamu tidak memiliki tanggungan atas emas sampai kamu memiliki 20 dinar, jika kamu memiliki 20 dinar dan telah genap satu tahun, maka zakatnya ½ dinar.” (HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi dengan sanad bagus, nailu al-Authar IV/138)

Zakat emas
20 X 2,5% = 0,5 mitsqal atau
85 X 2,5% = 2,125 gram
 

Zakat perak
200 X 2,5% = 5 dirham atau
595 X 2,5% = 14,875 gram
 
 







Untuk emas zakatnya dikeluarkan dalam bentuk emas, dan perak dalam bentuk perak. Jika ingin mengeluarkan zakat berbentuk emas untuk zakat perak, atau bentuk perak untuk zakat emas. Menurut Malikiyah boleh dengan syarat sesuai dengan harga, dan tidak diperbolehkan menurut Syafi’iyah.
Pengurangan Atau Penambahan Dari Nishab
Jika emas atau perak tidak mencapai nishab maka tidak ada kewajiban zakat atasnya. Adapun jika terdapat kelebihan dari nishab maka ada perbedaan dalam masalah ini,
Menurut Abu Hanifah tidak ada zakat atasnya kecuali sampai 40 dirham, maka di dalamnya dikeluarkan zakat 1 dirham, kemudian untuk setiap 40 dirham dikeluarkan 1 dirham. Untuk dinar juga tidak ada sampai mencapai 4 dinar, lalu dikeluarkan 1 dinar. Ini pendapat yang shahih menurut mayoritas Hanafiyah, dengan dalil sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, “...Untuk setiap 40 dirham ada kewajiban zakat 1 dirham...”(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib)
Adapun Jumhur Fuqaha’ dan dua murid Abu Hanifah berpendapat bahwa apa yang lebih dari 200, maka zakatnya adalah sesuai dengan hitungannya, meskipun mungkin tambahannya hanya sedikit. Karena sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Berikanlah 2,5%! Untuk setiap 40 dirham 1 dirham. Tidak ada kewajiban atas kalian sampai genap 200 dirham, maka di dalamnya ada kewajiban zakat 5 dirham. Apa yang lebih dari itu, maka dengan hitungan tersebut.” (HR. Ad-Daruquthni dan al-Atsram, HR. Abu Dawud dari Ali, hadits ini diriwayatkan dengan sanad mauquf pada Ali dan Ibnu Umar) dan inilah yang bisa diterima akal.
Ex: 210 dirham X 2,5 % = 5,25 dirham atau 600 gram X 2,5 % = 15 gram 
Bertambah Nishab di Pertengahan Haul
Hanafiyah : mensyaratkan bahwa nishab sempurna pada akhir tahun, baik itu berkurang dipertengahan haul asal tidak semuanya, maka wajib dizakati. Adapun jika bertambah di pertengahan haul, baik dari hibah atau warisan, maka disatukan dengan pokok harta dan dikeluarkan zakatnya. Sebab jika dihitung sendiri-sendiri akan menyulitkan dan tujuan diadakannya haul sejatinya adalah sebagai bentuk kemudahan bagi muzakki.
Malikiyah dan Syafi’iyah : adapun harta yang bertambah di pertengahan haul selain hewan ternak, jika itu dari hibbah, warisan, jual-beli, atau yang lainnya maka tidak wajib dizakati kecuali setelah sampai satu haul. Adapun jika berasal dari keuntungan harta atau perniagaan, maka dizakati untuk haul dari pokok harta tersebut.
Hanabilah : tambahan harta di pertengahan haul selain keuntung perniagaan dan hasil jual-beli, hibah, warisan, harta ganimah, atau yang semisalnya. Maka haulnya sendiri-sendiri, tidak ada kewajiban zakat kecuali setelah satu haul.
Kesimpulannya bahwa haul adalah syarat zakat yang telah disepakati dan juga untuk hasil jual-beli atau keuntungan perniagaan digabungkan dengan pokok nishabnya. Adapun tambahan di pertengahan haul yang masih berasal dari satu jenis harta selain dari hasil dan keuntungan, maka digabungkan dan dikeluarkan zakatnya, ini menurut Hanafiyah. Sebagai bentuk kemudahan bagi muzakki dan agar terhindar dari kesukaran, sebab jika harus dihitung sendiri-sendiri akan menyulitkan. Padahal adanya haul adalah sebagai bentuk kemudahan bagi manusia dalam mengeluarkan zakat. Untuk Jumhur berpendapat setiap tambahan dihitung dengan haul yang baru. Wallahu A’lam bish-Shawab!
Maraji’ :
1.      Fikhu az-Zakkah oleh Yusuf al-Qardhawi

2.      Al-Fikh al-Islamy wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah az-Zuhaili

0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net