Minggu, 13 Maret 2016

AGAR MUSIBAH BERNILAI PAHALA

0


Oleh : Tyo el-Bungry
Dalam menjalani kehidupannya manusia tidak terlepas dari dua hal, yaitu kebahagiaan dan kesedihan. Ibarat dua sisi mata uang yang tidak mungkin dipisahkan, kehidupan manusia selalu diwarnai dengan kebahagiaan dan kesedihan yang datang silih berganti. Terlebih bagi kaum Muslimin, kebahagiaan dan kesedihan adalah ujian yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada hamba-Nya guna mengukur kadar keimanan masing-masing, sebagaimana firman-Nya, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut :2-3)

Namun acapkali manusia terlena dan lupa untuk bersyukur atas kebahagiaan yang telah Allah Ta’ala beriakan kepadanya. Atau tatkala ia diberi ujian berupa kesedihan, ia menyalahkan dan menganggap Allah Ta’ala telah berbuat tidak adil kepadanya. Na’udzubillah!

Lalu apa yang harus kita lakukan tatkala musibah menimpa kita? Ada beberapa langkah yang dapat kita tempuh agar kita sukses melewati musibah dan musibah menjadi rahmat yang akan meninggikan derajat kita:

Pertama, apabila ditimpa musibah mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kami akan kembali), namun tidak hanya sekadar diucapkan di lisan saja tapi juga harus memahami maknanya dan mengamalkan konsekuensi dari ucapan tersebut.

Disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang ditimpa musibah, lalu mengucapkan : Innâ Lillahi wa Innâ Ilaihi Raji'un, Allahumma ajurni fi mushibati wa akhlif li khoiron minha (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kami akan kembali, ya Allah, berilah ganjaran dalam musibahku ini dan berilah ganti kepadaku dengan yang lebih baik darinya), niscaya Allah akan memberi ganjaran pada musibahnya, dan akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya.

Setelah kita memahami bahwa sejatinya kita dan apa yang kita miliki adalah pemberian serta amanah yang diberikan oleh Allah, dan akan kembali kepada-Nya. Maka seorang hamba akan lebih berlapang dada dan bersabar ketika musibah menimpanya.

Kedua, mengetahui dan meyakini akan takdir Allah Ta’ala, baik takdir yang baik atau takdir yang buruk. Seorang hamba akan merasa ringan melalui ujian manakala ia faham bahwa yang terjadi di muka bumi ini adalah takdir dari Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya,
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri “(QS. Al-hadid : 22-23)

Di dalam ayat ini dengan jelas menyebutkan bahwa Allah telah menetapkan takdir atas segala sesuatu. Dan dengan memahaminya semoga para hamba akan menerima dan tidak bersedih atas segala yang menimpa atau hilang darinya, serta tidak terlalu gembira terhadap pemberian Allah yang diberikan kepadanya.

Aisyah Radhiallahu ‘Anha bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang Tha’un, lalu beliau bersabda,

كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِي بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ وَيَمْكُثُ فِيهِ لَا يَخْرُجُ مِنْ الْبَلَدِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ
Tho'un itu adalah sebagai azab yang dikirim Allah kepada siapa- siapa yang dikehendaki-Nya, maka dijadikan-Nya tho'un itu sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Maka seorang hamba yang terkena tho'un, lalu ia tetap tinggal di negerinya dengan sabar dan mengharap ganjaran dari Allah, dia mengetahui bahwasanya musibah yang menimpanya itu sudah Allah takdirkan untuknya. Maka, pasti dia mendapat ganjaran seperti ganjaran orang yang mati syahid” (HR. al-Bukhari  no. 6619)

Dari hadits ini dapat kita simpulkan bahwa ketika seorang hamba tertimpa musibah, lalu ia bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala serta mengetahui bahwa ini adalah ketetapan yang telah Allah berikan kepadanya, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar.

Ketiga, ketika tertimpa musibah, hendaknya kita menengok dan meneladani orang lain yang tertimpa musibah sama seperti kita, sehingga kita akan melaluinya dengan tenang dan ringan. Sebab dengan melihat orang lain, kita akan mengetahui bahwa tidak hanya kita saja yang sedang tertimpa musibah, bahkan tidak sedikit dari mereka yang tertimpa musibah lebih berat dari kita.

Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kalau manusia memeriksa seluruh penduduk bumi, yang dia lihat adalah orang-orang yang tertimpa musibah. Berpaling ke kiri dan ke kanan tidaklah terlepas dari orang-orang yang tertimpa musibah.

Terkadang penderitaan yang dirasakan sendiri akan terasa lebih berat, tapi jika ada orang lain yang menderita dengan penderitaan yang sama atau bahkan lebih berat dari dirinya, ia akan merasakan keringanan dalam menjalani musibah tersebut.

Keempat, meyakini bahwa cobaan yang kita terima, jika dilalui dengan sabar dan ridha atas musibah yang menimpa, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Bahkan musibah yang menimpa kita dapat menghapuskan dosa-dosa dan menyucikan jiwa-jiwa kita, dan bagi yang bersabar akan mendapatkan shalawat, rahmat, dan hidayah dari Allah Ta’ala. Ini sebagaimana firman Allah Ta’ala di dalam surah al-Baqarah ayat 157,

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُون
“Merekalah (orang-orang yang bersabar) yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rab mereka, dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk”

Dalam tafsir al-Qurthubi disebutkan bahwa ini adalah nikmat dari Allah yang diberikan kepada orang-orang yang bersabar, shalawat kepada hambanya adalah mengampuninya, merahmatinya, memberkahinya, dan memuliakannya di dunia dan akhirat. Az-Zujaj berkata, “Shalawat dari Allah Ta’ala adalah ampunan dan sanjungan kebaikan.”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

ما يصيب المسلم من نصب ولا وصب ولا هم ولا حزن ولا أذى ولا غم حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه.
“Tidaklah seorang muslim tertimpa oleh keletihan, penyakit yang terus menerus, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundahdulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Seberapa berat ujian yang kita hadapi, jika dihadapi dengan kesabaran dan kerelaan akan bernilai pahala bagi kita.

Kelima, yakin bahwa apa yang menimpa kita adalah yang terbaik bagi kita. Sebab Allah mengetahui apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya bukan yang diinginkan oleh hamba-Nya. Dengan mengetahuinya, maka kita akan yakin bahwa Allah sedang merencanakan skenario yang pas dan cocok bagi hamba-Nya. Ini sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 216, “…Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal itu adalah yang terbaik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal itu adalah buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan engkau tidak mengetahui.”

Terkadang kita tidak menerima atas apa yang telah Allah berikan kepada kita, kita justru menuntut agar Allah mengabulkan apa yang kita inginkan, padahal belum tentu yang kita dapat adalah hal yang buruk. Maka sudah semestinya seorang hamba untuk mengedepankan husnudzan kepada Allah, dan meyakini bahwa yang diberikan adalah yang terbaik baginya.

Keenam, meng-intropeksi diri kita. Sebab segala yang menimpa seorang hamba adalah buah dari perilakunya. Mulai dari maksiat yang ia tidak tinggalkan, dosa yang ia remehkan, atau bahkan kedzaliman yang ia lakukan, keseluruhannya adalah salah satu dari sekian sebab yang menyebabkan Allah menurunkan musibah kepada hambanya, sebagai pengingat agar ia kembali kepada jalan yang benar.

Allah Ta’ala berfirman, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An-Nisa’ : 79)

Dari keseluruhan ini apabila seorang hamba mampu memenuhinya dan melakukannya dalam kehidupan sehari-harinya, terlebih dalam kondisi tertimpa musibah. Insya’a Allah ia akan melalui ujian itu dengan sabar dan mudah.


Wallahu A’lam

0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net